Kopi Arabika Bajawa

Popularitas, Paradoks, dan Krisis Kopi Arabika Bajawa

Oleh Tony Djogo

Kopi Arabika Bajawa sejak lama dikenal sebagai salah satu primadona kopi Indonesia. Aromanya kuat, rasa seimbang, dengan keasaman lembut khas dataran tinggi Flores. Dalam berbagai ajang cupping test, termasuk di Aceh beberapa tahun lalu, kopi Bajawa menorehkan hasil luar biasa—menempati peringkat lima hingga tujuh besar kopi arabika terbaik Indonesia. Tak heran jika namanya terpampang di rak-rak kafe, restoran, dan mal di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan bahkan diekspor ke Eropa, Jepang, Timur Tengah, dan Amerika Serikat.

Namun di balik gemerlap reputasi itu, tersimpan paradoks pahit: produksi dan ekonomi kopi Bajawa justru merosot tajam. Popularitas di pasar global meningkat, tetapi kebun kopi di Ngada—rumah asli Arabika Bajawa—terancam punah.

Dari Kebanggaan Menuju Krisis

Sejak mendapat sertifikasi Indikasi Geografis (IG) pada 2012, seharusnya masyarakat Bajawa memiliki kebanggaan dan tanggung jawab moral untuk mempertahankan reputasi kopi mereka. Tetapi data lapangan menunjukkan sebaliknya. Dalam perjalanan penelitian ke enam kabupaten penghasil kopi Flores (Manggarai Barat hingga Ende) antara 2017–2025, terlihat jelas banyak kebun kopi terbengkalai dan beralih fungsi menjadi lahan hortikultura—sayur, cabai, tomat, hingga bawang.

Alasannya sederhana: hortikultura memberi uang cepat. Petani tak lagi sabar menunggu panen kopi tahunan dengan harga fluktuatif dan pasar tidak pasti. Akibatnya, lanskap kopi di Bajawa perlahan bergeser menjadi ladang sayur musiman.

Data yang Membingungkan, Kebijakan yang Tak Terarah

Penurunan produksi ini diperparah oleh kekacauan data.

  • Tahun 2015, luas kebun kopi di Ngada tercatat 6.462 ha dengan produksi 3.459 ton.
  • Tahun 2018, luas meningkat ke 6.740 ha, tetapi produksi justru anjlok ke 2.347 ton.
  • Tahun 2024, angka resmi ATAP Dinas Pertanian menunjukkan hanya 1.807 ha dengan produksi 736 ton—turun lebih dari 75 persen dari satu dekade lalu.

Namun data dari BPS Kabupaten Ngada dan Provinsi NTT Dalam Angka berbeda jauh satu sama lain. Ada tahun di mana luas tanam turun tetapi produksi justru naik, atau sebaliknya. Ketidakkonsistenan ini membuat perencanaan kebijakan mustahil dilakukan secara rasional.

Lebih ironis lagi, data ekonomi kopi—seperti pendapatan petani, nilai ekspor, perdagangan antar-pulau, dan kontribusi terhadap PAD—tidak tersedia atau tidak diperbarui. Padahal, tanpa angka-angka ini, mustahil menakar dampak sosial ekonomi penurunan kopi di Bajawa.

Dampak Sosial dan Ekologis

Konversi kebun kopi besar-besaran membawa konsekuensi ganda. Di satu sisi, pendapatan tunai petani meningkat dalam jangka pendek. Namun di sisi lain, ekosistem perkebunan kopi yang selama ini berfungsi sebagai penyangga lingkungan ikut rusak.

 

Pohon pelindung dadap (Erythrina urophylla), yang dulu menjadi ikon kebun kopi Bajawa, banyak yang mati akibat kekeringan dan degradasi lahan. Upaya menggantinya dengan sengon atau lamtoro tidak berhasil. Hilangnya pohon pelindung berarti hilangnya sistem peneduh alami yang menjaga kelembaban dan mikroklimat kopi arabika.

Selain itu, meningkatnya penggunaan herbisida dan pestisida anorganik dalam lahan hortikultura mulai mencemari kebun kopi di sekitarnya. Belum ada penelitian serius mengenai sejauh mana pencemaran kimia ini memengaruhi kualitas biji kopi dan kesehatan tanah.

Kelembagaan yang Melemah

Dulu, lembaga lokal seperti UPH (Unit Pengolahan Hasil) dan Koperasi menjadi tulang punggung rantai pasok kopi Bajawa. Kini banyak yang berhenti beroperasi. Peralatan pengolahan menumpuk tak terpakai, sementara anggota kehilangan semangat karena tidak ada dukungan finansial maupun teknis.

Petani kini lebih suka menjual kopi gelondong langsung kepada buyer dari luar daerah yang datang ke kebun dengan timbangan dan truk. Rantai pemasaran menjadi tidak teratur, tidak ada standar mutu, dan MPIG (Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis) yang seharusnya mengawasi sistem IG kehilangan daya karena keterbatasan dana dan dukungan.

Akibatnya, nilai tambah kopi justru dinikmati di luar Bajawa, sementara petani di daerah asal hanya menerima bagian terkecil dari rantai nilai.


Paradoks Popularitas

Kopi Arabika Bajawa kini menghadapi paradoks besar: semakin terkenal di luar, semakin hilang di dalam.


Popularitas global tidak menjamin keberlanjutan lokal. Di tengah gempuran kopi spesialti dari berbagai daerah dan negara, Arabika Bajawa justru terancam kehilangan sumber dayanya sendiri.

Krisis ini bukan semata soal produksi, tetapi juga kegagalan sistemik:

  1. Kegagalan Data dan Perencanaan – angka tidak sinkron, perencanaan tak berbasis bukti.
  2. Kegagalan Kelembagaan – UPH, koperasi, dan MPIG melemah.
  3. Kegagalan Kebijakan – program tidak berkelanjutan, koordinasi lintas dinas lemah.
  4. Kegagalan Pasar – posisi tawar petani rendah, harga kopi tidak sebanding dengan biaya dan risiko.

Jika tren ini berlanjut, reputasi kopi Arabika Bajawa akan tinggal kenangan—“harumnya di kota, pahitnya di Bajawa”.

Membangun Harapan: Dari Krisis ke Revitalisasi

Meski situasi suram, harapan belum padam. Di tengah kemunduran, masih ada petani-petani tangguh yang melakukan peremajaan pohon, pemangkasan, dan pemupukan secara mandiri. Mereka membangun pesemaian, mempraktikkan teknik konservasi tanah, dan saling melatih sesama petani.

Upaya mereka perlu diperkuat oleh dukungan kebijakan yang serius. Revitalisasi kopi Arabika Bajawa harus menjadi agenda lintas lembaga:

  • Dinas Pertanian dan KPH (Kehutanan) mengintegrasikan konservasi lahan dan rehabilitasi pohon pelindung.
  • Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UMKM memperkuat rantai nilai dan akses pasar.
  • MPIG didorong menjadi lembaga penjaga mutu dan identitas geografis yang aktif.
  • LSM, lembaga penelitian, dan sektor swasta dapat berperan dalam riset, inovasi, dan pembiayaan berkelanjutan.

Lebih dari itu, dibutuhkan roadmap pengembangan kopi Bajawa terpadu dari hulu ke hilir—dengan sistem data yang valid, kelembagaan yang kuat, dan insentif yang adil bagi petani.

Penutup

Kopi Arabika Bajawa adalah kebanggaan Flores, aset budaya dan ekonomi yang berharga. Namun tanpa kebijakan yang tepat, sinergi kelembagaan, dan peran aktif masyarakat, ia bisa berubah menjadi kehilangan yang memilukan.

Article ini pernah di muat di Pos Kupang

Comments

Popular posts from this blog

Sakura Sumba, Konjil, Bubunik, Buni, SakuraTimor, Mudi (Cassia javanica)

Sejarah Yayasan Mitra Tani Mandiri (YMTM) versus Yayasan Geo Meno (YGM)

Kepemimpinan Lingkungan (Environmental Leadership)